Karena dosa itu bukan bernama imajinasi
Saya hanya merangkum dari sekian kasat-kusut, rasan-rasan dan guneman di warung-warung kopi dan disetiap gardu jaga kampung diantara ketawa cekiki’an, senda tawa serta cerita singkat keseharian, sekilas imajinasi singkat dari sekian banyak pokok cerita itu adalah, “bagaimana jika Gresik tanpa Bupati”.
Saya tak mengajak sampean berandai-andai yang sama, apalagi menyetujui, karena mungkin sampean tak setuju, berpendapat beda, toh ini ringan dan remeh dari sekian obrolan nggak jelas yang berlagak memikiri.
Apa Gresik akan baik-baik saja?, atau ini tak mungkin, ataukah harus ada yang memimpin Gresik kedepan untuk menjaga jarak agar agar cita-cita yang tak tersentuh itu didekatkan?, apakah harus?, bagaimana jika yang diharapkan itu meleset, atau sampean malah merasa, kita memilih yang terbaik dari sekian pilihan buruk?.
Ah, ini imajinasi, dan sekali lagi, ini bukan dosa.
Saya membaca Dublin-nya James Joyce, masih di dua pertiga bagiannya, dan dari sana saya ingat Grisse tempo doeloe, tapi dari separuh lebih itu saya bisa tahu, bagaimana geliat sebuah kota itu bisa digambarkan dengan sebegitu sulit dilupakan, tidak didapati di sebuah buku setebal Grisse tempo doeloe.
Keduanya mungkin berbeda, kita semua tahu dari judul yang jelas menggambarkan isi didalamnya, tapi Dubliners memberikan gairah kota, kegelisahan, denyut kehidupan, ketegangan masyarakat, ragam penghuni dan segala persoalan mengenai etik dan politik dalam simbol-simbol dan juga bagaimana sebuah kota itu mengharapkan sosok kepemimpinan kedepan.
Dubliners layak baca karena ia mengikuti ritme kehidupan, tidak seperti Grisse tempoe doeloe, yang mengingatkan saya akan komentar seorang teman, “Gresik berada dalam bayang-bayang keemasan masa lalu”, dan saya membenarkannya soal ini, Gresik, mungkin berada dalam kebimbangan, antara kejayaan masa lalu dan masa depan yang tak tersentuh.
Dihari-hari terakhir ini, dimana riuh gaduh slogan tentang masa depan kota Gresik, agaknya, Dubliners layak dijadikan sebuah cermin dan sekilas pembelajaran singkat bagi semua, tak peduli pada level berapa sebuah masyarakat di sebuah kota kecil pinggiran itu dibentuk, agar kita tak lagi keliru, agar masa depan tak lagi suram, dititik ini, kita membuat sejarah kota kita sendiri.
Dengan tidak ada niat membandingkan Gresik dengan Dublin yang berjarak, tapi sesungguhnya kita punya keingingan yang sama, jika boleh saya meringkusnya dalam kalimat singkat, kita ingin perubahan masa depan yang labih baik.
Dubliners adalah Dublin dengan sejarahnya sendiri, dan Gresik adalah saya dan sampean yang juga menentukan sejarah kita sendiri.