Apa ukuran kesuksesan bagi sebuah pemerintahan, kemajuan, simpul-simpul kemakmuran, jalan di tempat atau setidaknya ada perubahan ke arah depan, andai alat ukur itu semudah mengempit alat pengukur suhu badan.
Agar tidak melebar, saya sedang bicara Gresik, dimana saya dan sampean yang peduli, atau sampean yang acuh dan tak peduli, atau sampean yang tiba-tiba menjadi pendukung salah satu calon Bupati dengan membabi buta itu tinggal dan mencoba memperbaiki nasib kita, saudara dan kerabat kita di Gresik yang semakin gerah karena ketidak pedulian atau kepedulian saya dan sampean semua.
Ini tidak mudah, perbedaan tentu mempunyai ruang seluas-luasnya disini, jika sebuah besaran bisa diartikan tujuan dalam kasus ini, dan jika besaranpun tak ada, lantas apa yang mesti dijadikan sebuah ukuran dan besaran yang dimaksud. Gresik tak fokus dan kita tak lagi peduli.
Gresik, saya ragu akan kemana, jika selama sekian tahun kita tak tahu tujuan, maka setiap hal yang sekedar mengekor, mem-bebek atau underbow tak akan membawa kita kemana-mana.
Dimana sebenarnya tujuan, misi, dan segenap penghuni kota ini akan dibawa, berapa tahun target pencapaian, berapa persen proses berjalan, logika sederhana yang tak dimiliki mereka yang terkadang sok berpikir rumit.
Gresik bukan New York, dimana segala hal yang rakus, dukungan tak mendasar, ambisi dan keserakahan itu terlampiaskan, dan menaklukkannya untuk menguasai segalanya.
Gresik, meski secuil bukan untuk ditundukkan, tapi bagaimana menjadikannya nyaman untuk kita, saya dan orang tua sampean, saudara dan juga kerabat sampean, dan untuk itu kita butuh ukuran, tak peduli kiloan atau literan.


























