Sudah 2 Ramadhan ini tinggal di rantau pulau seberang, masih seperti ramadhan yang lalu — ramadhan kali ini pun sepi tak bergairah, tak seperti ramadhan di kampung halaman yang sangat sakral n “romantis”. Hiruk pikuk nuansa puasa di kampung yang begitu kental nampak layu di negeri seberang, entah karena apa?
Setiap malam hanya dihabiskan untuk duduk didepan tv dan layar komputer, pagi hingga petang menjelang habis untuk urusan duniawi.
Tak ada secuil rasa dan gairah ibadah, paling-paling hanya rawatib dan sedikit murottal — itupun kalo sempat, malah banyak tak sempatnya. Miris mengiris rasanya, sembab mata membatinnya.
Lebaran H-1, masih seperti malam-malam sebelumnya. Tafakkur di hadapan layar komputer. Entah mau mencari apa di dunia maya, atau sekedar lihat update status FB, atau iseng2 browsing tak karuan.
Malam ini, masih seperti malam sebelumnya. Sendiri ditemani segelas kopi sisa buka puasa tadi, disanding sebungkus rokok yang dah lama berniat menghilangkan kebiasaan itu.
Suara jangkrik dari kebun belakang rumah, gemericik bocoran air kran kamar mandi dan desingan PC menyatu menemaniku malam ini. Seakan terlampau lelap tidurku siang tadi, memaksaku untuk tak tidur terlalu cepat. Masih seperti malam yang lalu, insomnia masih menderaku.
Tadi pagi sudah ku transfer sejumlah uang ke rekening adikku, untuk bayar zakat fitrah yang sengaja ku bayarkan di kampung halamanku, beberapa rupiah kusisihkan untuk berbagi kesenangan dengan 2 adikku yang masih kecil, sekedar untuk beli baju lebaran atau malah mereka habiskan untuk membeli mercon — terserah mereka berdua.
Masih terngiang kisah lebaran tahun lalu, sendiri tanpa keluarga……
Zzzz…Zzzz…Zzzzz……


























