“Benjeng nggak ndeso lagi lho, tapi sudah jadi kota, buktinya malam ini jalanan macet seperti di Surabaya”, celetuk teman saya. Iya, karena malam ini ada acara music dan nonton bareng (nobar) final piala liga champion 2008 di lapangan kecamatan. Macetnya karena antrian motor pengunjung yang akan masuk lokasi, dan trotoar sepanjang jalan ramai dijejali pedagang dan pembelinya.
Di dalam lokasi, di tengah lapangan berdiri panggung terbuka lengkap dengan peralatan musik dan sound system yang cukup memekakkan gendang telinga. Sekitar pintu masuk berjejer outlet-outlet sponsor acara ini: rokok, motor dan operator telepon seluler. Berjejer pula teratur penjual makanan dan minuman dan mainan anak-anak di pinggir lapangan. Sedangkan di tempat terpisah terpasang layar raksasa sebagai display LCD proyektor yang terhubung dengan chanel RCTI penyiar Liga Champion, sebagai puncak acara nobar.
Sebelum nobar yang dimulai dini hari, sedari petang penonton dihibur band-band lokal. Menampilkan kreatifitas bermusik anak-anak muda, dan suatu kebanggan bisa tampil di panggung menghibur penonton, meski hanya 2 lagu saja. Di ujung acara pertunjukan musik ditutup dengan bintang tamu, dari Benjeng juga, Kampoenk Rock dan band hiphop TNC. Salut buat anak-anak karang taruna desa Bulurejo, ibu kotanya Kecamatan Benjeng, yang selalu kreatif dan sukses meng-EO acara-acara seperti ini.
Namun ada yang bikin saya kecewa malam itu. Bukan kalah taruhan karena tim favorit saya kalah, tapi bubar nobar saya baru sadar kalau sandal jepit saya hilang. Huhh…, hancurit…!
update: Hancurit adalah kata umpatan dalam bahasa jawa (gresik), yang maknanya hampir sama dengan bangsat, keparat dan semacamnya…



























