Setelah SMP saya meneruskan SMA di Surabaya. Ketika mengenalkan diri dan menyebut tempat asal saya, teman-teman sekelas nyorakin semua.
Ketika sudah bekerja, kebetulan di Benjeng juga, saat menerima telepon dan saya menyebutkan kantor ‘Benjeng’, suara lembut di seberang malah mengkonfirmasi “loh emang Benjeng itu ada ya….?” Untung saja suara lembut cewek yang terdengar, mau marah jadinya ikut ketawa juga, tapi ketawa kecut…
Sampai saat ini anak Benjeng yang merantau di Surabaya sering mendapat ejekan dengan nama asal wilayahnya itu. Walaupun saya tahu itu sekadar guyonan sesama teman yang memang sudah saling kenal sebelumnya.
Saya tidak tahu kenapa kata Benjeng sebagai bahan ejekan. Kalau alasannya Benjeng dahulu terkenal dengan segala kekurangan, toh itu juga di kecamatan lainnya, misalnya: banjir, jalan rusak, mandi cuci dan cebok di kolam yang sama (jublang). Tapi sekarang jalan di sini sudah lumayan mulus, dan sebagian besar penduduk sudah punya kamar mandi di setiap rumah.
Menurut saya, kata Benjeng sendiri adalah nama unik dan aneh yang tidak punya arti khusus. Dan pengucapan kata Benjeng sendiri memang lebih mudah dan mantap, daripada Cerme atau Balongpanggang (terlalu panjang kan, he2…)
Bagaimanapun juga saat ini Benjeng adalah tempat hidup saya bersama 56ribuan jiwa lainnya. Walaupun kadang-kadang masih banjir, tapi saya masih bangga, bahagia dan betah hidup di kota kecil saya, Benjeng. Ada yang berminat pindah ke Benjeng?



























