Sering sudah kita melihat tangis itu digelar ketika sebuah permainan bola berakhir, tangis, tentu saja bagi yang kalah, tapi sepak bola barangkali bisa menjadi sebuah contoh apik, bagaimana kekalahan itu bisa diterima dengan lega, selanjutnya jabat tangan berangkulan dengan ucapan selamat, sekaligus bertukar kaos penuh keringat.
Itu bola, bukanlah politik, dan kekalahan dalam permainan bola bukanlah hal memalukan, terlebih jika permainan tim yang cantik yang disuguhkan, tapi ini politik, semua mengaku melakukan dengan cantik, tanpa tipu daya, tanpa uang, dan tentu saja tanpa janji tahunan yang menggiurkan, yang kadangkala kita sering luput untuk menagihnya ulang.
Barangkali saja ini jauh lebih dari sekedar ngeri dan memalukan, ketika yang kalah kemarin terlanjur diputuskan sebagai pemenang dan di putaran selanjutnya yang terpaksa diulang ia menjadi pihak yang kalah. Maka yang akan disajikan bukanlah jabat tangan ucapan selamat dan sebuah pengakuan bahwa lawan memang bermain jauh lebih bagus dan lebih siap dari tim kita sendiri, maka kita menyaksikan aksi saling tuding dan tuntut, dikemanakan rakyat yang dalam demokrasi hanya direpresentasikan dalam angka-angka statistik yang seharusnya menjadi objek yang diperjuangkan kesejahteraannya, seperti yang terlanjur dijanjikan, entah dengan setengah hati atau dengan kesungguhan.
Sekali lagi ini politik, dan seperti halnya saya dan sampean semua bisa dengan mudah menduga, tak perlu keahlian khusus untuk menebak apa yang akan dilakukan oleh mereka yang kalah.
Sampean boleh mengira saya sedang berburuk sangka, itu hak sampean, dan sampean, jika saja bisa, saya berharap, bisa memberikan sebuah contoh lelaku baik dari golongan mereka, setidaknya tidak akan menambah catatan buruk tentang perilaku para wakil rakyat yang hendak berjuang demi rakyat, dan tentu saja, untuk sebuah kota pinggiran, Gresik, yang kita tahu hanya dalam sejarah, pernah mendapat suluk sebagai kota santri.


























