Subscribe:Posts Comments

You Are Here: Home » GADO-GADO, TERBARU » Lonceng Launching

Komunitas blogger Nggersik.com saat ini didera persoalan launching. Selain waktu yang terus melaju maka persiapan menjadi persoalan krusial. Namun kegamangan mereka dalam memaknai eksistensi menjadi dilematis.

Kalau komunitas blogger kita analogikan sebagai sebuah buku maka launching bisa jadi sampulnya. Artinya apapun bentuk desain sampul sebuah buku tidak dapat mempengaruhi isinya. Seperti kata pepatah “Don’t see a book from the cover”. Jadi eksistensi sebuah komunitas tidak bakal dipengaruhi launchingnya. Eksistensi ini tumbuh seiring dengan kredibilitas contentnya serta posisi ranking dalam Search Engine. Karena dalam internet, traffic menjadi patokan eksistensi sebuah site. Dan persoalan akan lebih runyam lagi kala dihadapkan pada pertanyaan : “Apa salahnya sebuah buku tanpa cover?”.

Selain persoalan perlu tidaknya sebuah buku diberi cover, hal lain yang paling sulit adalah hajat untuk launching ini sudah kadung bocor kemana-mana (apa sih yang tidak bocor di internet?). Apalagi hampir semua komunitas blogger telah melakukannya dengan mengundang Nggersik.com. Tentunya bakal menjadi ewuh jika hanya mau diundang tanpa mengundang.

Padahal kalau kita kembali ke eksistensi maka cover bukanlah hal yang perlu bikin pusing. Tengok saja website berita tentang Nggersik yang dulu stikernya menempel di jalan-jalan protokol, kita bisa pertanyakan eksistensinya saat ini.

Jadi apapun bentuk covernya, content semestinya yang jadi renungan. Namun cover juga bisa jadi sebuah putusan dari berbagai pilihan. Kalau kita dihadapkan pada pilihan berbagai buku dengan bermacam cover tentu pilihan awal ada pada covernya bukan isinya. Dengan cover menarik tentu calon pembaca lebih melirik. Dan kita bisa memenangkan dengan merebut putusan dari berbagai pilihan.

Belum lagi persoalan klasik. Persoalan kocek yang mesti dirogoh dari sana-sini untuk menggelar acara ini. Persoalan yang tidak mudah dituntaskan apalagi saat orang pada menggelontorkan resource untuk kemenangan partai dan calegnya. Jadi maklum saja para pendego yang mbaurekso komunitas Nggersik sulit berleha-leha saat sekarang. Apalagi melempem.

Mungkin pemikiran sederhana dibutuhkan untuk mencairkan kebekuan ini. Pemikiran bahwa cover tidak harus mahal dan mewah. Mungkin kita cukup menggunakan standar student edition tanpa kehilangan identitas, kehilangan kreatifitas namun tetap menyiratkan kualitas.

Misalnya kita bikin lesehan di tempat strategis dengan menu polo pendem dan sajian budaya yang merakyat lebih membumi dan menyorongkan identitas Nggersiknya. Dalam desain rancang bangun event yang dirancang secara khusus dan dilakoni secara serius dalam keterbatasan budgetpun bakal menuai kesan yang mendalam. Belum lagi kalau kita bisa mendisain kemasan acara yang terkesan tradisional relegius yang kental tentu bakal menjadikannya sebagai jamur di postingan undangan.

Keyakinan ini bukan tanpa alasan tapi penulis sendiri pernah melakukan ketika mendapat tantangan dari Indonesia Media Law and Policy Center (IMLPC) Jakarta. Dan konsep acaranya dibawa keliling Indonesia.

Jadi penulis berharap para pendego Nggersik.com tidak lagi menatap launching dengan gamang namun sudah dapat menyederhanakan persoalan tanpa jadi melempem. Merancang acara dengan serius tanpa terbebani persoalan yang tidak perlu. Dan pada saatnya lonceng launching bakal tetap berdentang tanpa bisa diredam gaungnya.

Note : Hasil nggedabrus dengan Agusrest, Peyek dan Edoniche di warung Cak Ri semalam.

2 Comments

  1. peyek says:

    Hehehehhe… akhirnya… sampean ikut kepikiran juga cak!
    Dengan ngobrol kemarin malam itu dan hadirnya sampean ngopi bareng semakin menjadikan penyemangat, bahwa banyak hal yg bisa dilakukan untuk mengurangi segala kekurangan itu.

    Jika launching diartikan sebagai sebuah cover dari buku saya juga tidak keberatan, tapi hegemoni launching itu sudah sebegitu kuatnya diartikan sebagai sebuah proses pembauran dengan komunitas lain, bahasa nggersik-nya ya itu tadi, diundang tanpa mengundang, jadilah ewuh pekewuh.

    Tentunya kita akan kembali mencoba membumikan kembali dengan resource yang kita punya, jika saja hal itu nantinya akan dilakukan, dengan tidak mengesampingkan content tentu saja, dan satu lagi, tetap diharapkan sumbang saran dan tenaga sampean cak.

  2. Aqil Good says:

    SAya kan cuma sami’na wa’ato’na saja sama teman-teman. Lha monggo digarap bareng-bareng. Sing penting jangan sampai ada yang bilang : “Wis dak taek-taekan”

Leave a Reply

© 2009 NGGERSIKdotcom · Subscribe:PostsComments · Designed by nggersik · Powered by WordPress