Barangkali saya berharap terlalu banyak terhadap sebuah buku, dan saya lupa petatah-petitih itu, barangsiapa berharap terlalu banyak ia harus siap kecewa.
Saya bukan meresensi sebuah buku, terlepas ini sebuah resensi atau bukan, saya hanya membatasi diri, bahwa ini pendapat saya pribadi tentang buku “Kota Gresik 1896-1916″ yang ditulis Oemar Zainuddin dengan sedikit testimoni dibelakang buku yang menegaskan buku ini akan banyak berbicara tentang budaya, seni dan Gresik sebagai pusat perdagangan di era itu.
Alih-alih bicara tentang sejarah dan latar belakang Gresik yang medetail (seperti kata pengantar pada halaman vii), saya merasa, buku ini hanya ingin menegaskan eksistensi H. Oemar dan keluarga, apalagi, bukan sebuah kebetulan, penulis adalah masih bagian dan secara tegas menyatakan, penulis adalah generasi ketiga dari H.Oemar, nama yang berulang kali di reproduksi dibanyak halaman di buku ini, H.Oemar dan segala usaha perdagangannya dengan melesakkannya sebagai tolak ukur sukesnya Gresik sebagai pusat perdagangan kala itu.
Saya pikir, buku ini akan lebih tepat bila dijuduli “Eksistensi H.Oemar sebagai perintis usaha penyamakan kulit di Kota Gresik”, atau kalimat lain yang sejenis, dengan mengambil subjek H.Oemar dan segala usahanya dan Gresik sebagai lokasi usaha yang menjadi pusat arus perdangangan Belanda kala itu. Dan ada sedikit pertanyaan, mengapa sebuah buku tebal seperti Grisse tempo doloe itu terkesan diabaikan sebagai rujukan, jika ia telah diakui sebagai referensi sejarah Gresik tempoe doeloe?.
Pada bagian pendahuluan, penulis mengutip Auguste Comte dalam bukunya Cours de Philosophie Positive, yang mengharuskan penulisan sejarah itu tidak berdasar pada spekulasi, tapi buku itu malah terjebak dalam spekulasi sejarah yang over subjektif, barangkali ini bisa menjadi maklum karena penulis masih dalam satu hubungan darah dengan objek yang menjadi tokoh sentral.
Banyak kutipan menarik tapi terasa berada dalam landasan yang tak kokoh sebagai sebuah referensi sejarah, seperti kutipan Raffles tentang tambak(kolam ikan), “These ponds are to be found in most of the law maritime districts; those at Gresik, which are the most extensive, appear to have been first established during the visit of one of the early Mahometan princess on the islands in the fifteenth century”, dan beberapa kutipan tanpa referensi lebih detail dan jelas.
Tapi bagaimanapun, buku ini patut mendapatkan apresiasi sebagai sebuah upaya literasi warga Gresik terhadap warisan budaya masa lalu, meski masih cenderung terkesan sebagai buku sejarah keluarga besar H. Oemar, ditengah minimnya minat baca dan sedikitnya bacaan tentang kota Gresik.
Selamat membaca.


























