pernah terlintas dalam pikiran saya hal-hal simpel dan konyol seperti ini, “kenapa buku diberi nama buku?”
“kenapa pensil namanya pensil?”
“siapa sih yang pertama kali memberi nama-nama itu? dan kenapa harus diberi nama itu?”
sampai saat ini belum ada yang bisa menjawab pertanyaan konyol itu pada saya..
ingat tidak, eyang buyut Shakespeare pernah bilang:
“What’s in a name? that which we call a rose.
By any other name would smell as sweet; So Romeo would, were he not Romeo call’d, Retain that dear perfection which he owes.
Without that title. Romeo, doff thy name, And for that name which is no part of thee. Take all myself. “
jadi, menurut eyang buyut Shakespeare, mawar tetaplah mawar walaupun namanya diganti kaos kaki tetap saja jadi bunga yang harum dan indah.

lain Eropa, lain pula Asia. lain Willam Shakspeare, lain pula orang jawa. dalam bahasa jawa, kosakata sepertinya ”tercipta” atau “diciptakan” sesuai dengan wujud dan kebiasaan benda-benda tersebut.
hal ini bisa bertolak belakang dengan pernyataan eyang shakespeare mengenai “what’s Name?”
coba perhatikan kosa kata dalam bahasa jawa di bawah ini :
Sepur = asepe metu dhuwur (asapnya keluar dari atas)krikil = keri ing sikilguru = digugu lan ditiru
garwa = sigaraning nyawa (belahan jiwa)
maling = njupuk amale wong sing ora eling
Kodok = teko-teko ndodok (baru datang langsung jongkok)
gelas = tugel angel di las (patah, susah disambung)
kosa kata bahasa Jawa di atas, dalam pepak Bahasa Jawa disebut dengan “KERATA BASA”
jadi kesimpulan saya, rasanya sebuah kosa kata tidak muncul dengan begitu adanya, atau hanya kebetulan saja.
karena setiap nama pastilah mempunyai makna
dan kodok tidak akan bernamakan kodok kalau baru datang tidak langsung jongkok.
bener gak ya???
Posted in catatan kaki Tagged: bahasa daerah, bahasa jawa, Indonesia


















