Tak baik mengeluh soal cuaca, Gresik yang panas dengan hujan sesekali yang belum genap penuh untuk dikatakan hujan, gerimis ricik tak merata, tak mampu membasahi rerumputan yang mengering secara menyeluruh.
Entah kapan musim itu akan berganti, semakin tahun, musim kemarau terasa jauh lebih panjang dari musim penghujan yang acapkali membawa bencana banjir bagi sebagian kota-kota besar, dan Gresik entah kenapa sebab, banjir sudah menjadi bencana tahunan yang tak kunjung terselesaikan.
Banjir adalah masalah kompleks bagi kota besar di negeri ini, kepadatan penduduk, sampah dan pelbagai masalah sosial yang menyertainya, tapi mengherankan bagi Gresik yang tak bisa sepenuhnya dikatakan kota dengan penduduk yang padat, tapi toh banjir adalah langganan tahunan setiap musim penghujan tiba, kota ini memang tak sungguh-sungguh belajar dari apa yang terjadi sebelum-sebelumnya, banjir akan usai dengan sendirinya ketika musim itu berganti, dan pembenaran klasik yang sedikit membosankan adalah banjir di kota ini adalah banjir kiriman.
Kelakar tajam dan mengandung ironi dari kota ini adalah bangga dengan record muri dalam lomba menggambar linkungan kemarin lusa, bukankah ada hal yang jauh lebih mengandung arti dari menggambar linkungan asri?, yakni menanami Gresik dengan pepohonan, bukan dengan sekedar imajinasi dalam kertas tentang linkungan yang rindang penuh pohon hijau dan linkungan yang adhem?.


























