Subscribe:Posts Comments

You Are Here: Home » AGGREGATOR » Bebaskan Penghambat Kemajuan Diri …!


sukses sukses sukses

Semua orang pasti menginginkan perubahan pada dirinya, berbagai cara dilakukan agar kehidupan selalu berubah untuk menjadi lebih baik karena orang yang beruntung adalah yang hari ini lebih baik daripada kemarin, sebaliknya orang yang merugi adalah orang yang hari ini lebih buruk hidupnya daripada kemarin.

Berbagai cara dilakukan agar kehidupan selalu mengalami kemajuan. Bermacam seminar leadership diikuti, program seminar motivasi diri selalu disempatkan untuk hadir dan berbagai macam buku yang menerangkan cara untuk mengembangkan diri-pun habis diasup, semua itu dilakukan untuk mengembangkan potensi diri masing-masing. Perkembangan diri selalu dinantikan oleh semua orang demi satu tujuan, yaitu menjadi orang sukses. Ya… sukses, apakah sukses itu. Sukses adalah orang ahli (expert) yang selalu menggunakan keahliannya dalam mengelola potensi (aset) dirinya dengan baik.

Usaha untuk meningkatkan kemajuan diri sering mengalami gangguan dan hambatan. Seringkali sebagian manusia tidak sadar terhadap adanya hambatan yang bercokol menghadang perkembangan, baik itu hambatan dari dirinya sendiri maupun dari luar dirinya, sehingga sering juga mereka gagal atau setidaknya kemajuan perkembangan diri mereka terhambat. Bahkan seringkali banyak orang yang menyerah apabila dihadapkan pada hambatan-hambatan tersebut, namun banyak juga yang semakin gigih dalam menanggulangi hambatan di depannya. Ingatlah pada filosofi yang diberikan oleh Kerang, anda mau jadi kerang rebus atau kerang mutiara, dibawah ini sekelumit cerita tentang kerang ;

Tahukah anda proses terjadinya mutiara ?. Waktu kerang muda mencarik makan atau bergerak pindah, ia akan membuka cangkang penutup badannya. Buka … tutup…. buka… tuutp. Nah, suatu kali, di saat cangkang itu terbuka sebutir pasir masuk ke dalam cangkang kerang itu. Sang kerang pun menangis sambil memanggil-manggil ibunya. “Bu sakit bu .. ada pasir masuk ke dalam tubuhku.”

Sang ibu menjawab, “sabar ya, Nak, jangan pedulikan sakit itu, bila perlu berikanlah kebaikan kepada sang pasir yang menyakitimu itu”. Kerang muda pun menuruti nasihat ibunya. Ia menangis, tapi air matanya ia gunakan untuk membungkus pasir yang masuk ke dalam tubuhnya itu. Hal itu terus menerus dilakukan. Dengan baluran air mata itu, rasa sakitnya pun berangsur-angsur berkurang bahkan kemudian hilang sama sekali.

Beberapa saat kemudian, kerang-kerangan itu dipanen. Kerang yang ada pasirnya dipisahkan dari kerang yang tidak ada pasirnya. Kerang tak berpasir dijual secara obral di pinggir jalan menjadi “kerang rebus”. Sedangkan kerang berpasir dijual dengan harga ratusan bahkan ribuan kali lipat lebih mahal dibandingkan kerang tak berpasir. Mengapa bisa begitu ? karena pasir yang ada dalam tubuh kerang itu telah menjadi inti mutiara. Ya…. butiran pasir itu telah dibalut dengan lapisan air mata berubah menjadi inti mutiara.

Seperti itulah perjuangan dalam menegakkan eksistensi kehidupan kita, aral seringkali menancapkan durinya pada kaki kita, halangan seringkali menghadang langkah kemajuan kita. Tergantung kita sendiri, bagaimana sikap kita dalam menghadapi halangan, bagaimana langkah selanjutnya apabila kita dimasuki “butir-butir pasir”, apakah “butir pasir” itu kita singkirkan dengan harapan “pasir” lainnya tidak kembali kepada kita, atau “butir pasir” itu kita anggap sebagai partner kita dalam menggapai keberhasilan. “Butir-butir pasir” kita perlakukan sebagaimana kerang memperlakukannya, kita mempelajari seluk-beluk suatu masalah agar dapat dicari jalan keluarnya, mencatat gejala permasalahan dan solusinya untuk pelajaran di hari esok dan selalu siap menghadapi segala halangan yang telah menanti kita. Perlakukan halangan bukan sebagai musuh perjuangan, tapi sebagai ajang untuk memperkuat mental dan memperkaya strategi dalam menghadapi hidup.

Banyak macam halangan yang sering dihadapi oleh manusia, diantaranya adalah masalah potensi (aset). Minimal ada 2 hal yang berkutat dalam masalah potensi diri ini, yaitu ketidak percayaan diri terhadap potensi yang dimiliki dan kungkungan lingkungan terhadap pengembangan potensi diri.

Sering kita mendengar “Nggak mungkin saya bisa berhasil, saya khan tak punya modal besar” ; “tak mungkin saya bisa sampai memenuhi target, khan targetnya kelewat tinggi” ; “Nggak mungkin saya berwirausaha, saya nggak mungkin berhasil, lha wong darah saya darah wong kere”. Ungkapan seperti itulah yang menandakan terjadinya ketidakpercayaan terhadap potensi diri.

Anda tahu harimau, bagaimana caranya men-domestik-kan atau menjadikannya sebagai harimau “rumahan”. Seorang pawang harimau yang bekerja pada rumah sirkus punya trik jitu dalam menghadapi keliaran harimau. Sang pawang menyediakan kandang kuat, makanan banyak dan juga cemeti sebagai pemukul tentunya. Berbulan-bulan pawang memenjarakan harimau dalam kandang kokoh yang sempit, harimau tidak diberikan keleluasaan untuk mengasah kamampuan berburu, berlari dan mengoyak mangsa yang seperti biasa dilakukan di hutan. Setelah waktu yang cukup lama, sang pawang pun membuka kandang dan melepaskan harimau itu, apakah harimau lari ? ataukah segera menerkam si pawang ?, tentu tidak. Harimau tidak akan berlari atau menerkam si pawang, harimau akan tetap santun dan tenang seakan lupa terhadap kejayaannya di hutan.

Hal yang menimpa harimau juga sering menimpa pada manusia yang sedang berjuang untuk meniti jalan hidup, baik di dunia bisnis dan perkejaan maupun di dunia pendidikan. “kandang harimau” membatasi pikiran ketika kita mendapati ketidak sempurnaan kondisi dan situasi hidup. Kehidupan yang serba kekurangan, kondisi tubuh yang kurang sempurna, pendidikan yang rendah dan lain sebagainya. Ini tentunya akan menghambat keberhasilan dan pengembangan potensi kita yang sebenarnya. Kemampuan dan potensi yang sesungguhnya ada dalam diri kita tidak terlihat dan terpakai dalam kehidupan sehari-hari.

Tentunya kita sangat ingin memunculkan aset berharga yang berupa potensi itu, potensi untuk maju, potensi untuk berkembang, bisa berupa kemampuan manajerial, kemampuan teknis, kemampuan hubungan publik atau kemampuan-kemampaun yang lain. Bila kita ingin segera memunculkannya, maka kita harus segera bertindak, Take Action untuk segera merobohkan “kandang harimau” yang memenjarakan jiwa dan pikiran kita. Tengoklah Riyanto yang wajahnya sungguh terlalu minimalis untuk pantas tampil di tv dan terlalu jelek untuk menjadi artis serta cukup bodoh untuk menjadi seorang pemandu acara, namun karena dirinya mampu merobohkan “kandang harimau” dalam pikirannya maka Riyanto pun dapat merengkuh kejayaan di bisnis hiburan televisi dan sekarang tenar dengan nama Tukul Arwana. Begitu juga dengan bang Ucok Baba, dengan segala keterbatasan fisik, beliau juga terbilang sukses dalam menapaki kehidupan kerjanya karena mampu melepas gembok “kandang harimau” pikirannya.

Tidak hanya kondisi fisik saja yang berpotensi menjadi “kandang harimau”, keterbatasan pendidikan juga. Lihatlah Mr. Bill Gates yang tidak sempat meluluskan kuliah sarjananya, namun dapat bersanding dalam deretan orang terkaya di dunia.

Selain masalah ketidakpercayaan terhadap potensi dan kemampuan diri, “kandang harimau” juga menciptakan lingkungan yang tidak mendukung kemajuan dan perkembangan. Harimau yang telah lama mendekam dalam kandang, tidak akan mampu berlari sejauh dan secepat ketika masih hidup di hutan. Kenapa harimau tidak dapat lagi berlari sejauh dan secepat masih hidup di hutan ? saat harimau ada di kandang, dia mencoba untuk berlari namun selalu gagal karena selalu terhalang dan terkungkung olehb kandangnya. Si harimau selalu mencoba dan mencoba berulang kali berlari, namun selalu gagal. Karena selalu gagal ia mulai ragu dan tidak pe-de terhadap kemampuannya sendiri.

Karena selalu terkondisikan dengan lingkungan yang baru, harimau pun mulai berpikir bahwa kemampuannya berlari hanya sebatas kandangnya saja, tidak lebih dan secepat dahulu.”sepertinya kemampuan saya memang hanya segini”, kemudian kecepatan dan jarak jangkauan larinya pun disesuaikan dengan sebatas kandangnya saja. Si harimau pun hidup dengan persepsi seperti itu sampai akhir hidupnya. Harimau telah dibatasi oleh lingkungan barunya. Padahal sebenarnya si harimau memiliki jangkauan jarak lari yang jauh dan kecepatan lari yang luar biasa melebihi kemampuan semu saat di kandang. Kemampuan sesungguhnya tidak muncul karena dibatasi oleh kandangnya.

Kandang harimau” jenis ini pun sering mengkungkung kita. Siapa mereka ? jenis “kandang harimau” apa yang memenjarakan kita dilingkungan sempit dan terbatas ?; Bos kita, direktur kita, rekan kerja, upah kita dan lain sebagainya.

Pimpinan kantor dapat berubah menjadi “kandang harimau”, menghambat karir, mematikan kreatifitas dan memutuskan semangat kerja kita dengan kata-kata “kemampuan kamu nggak bakal mampu melebihi kemampuan saya.” Rekan kerja kita suatu saat akan berubah menjadi kandang harimau bagi kita dengan mengucapkan “nggak usah ngoyo-ngoyo, nasib kita nggak bakalan berubah.” Gaji juga bisa menjadi kandang harimau bagi ketika kita berpikir bahwa pekerjaan yang kita lakukan hanya senilai yang tertulis di slip gaji. Kita tidak mau melakukan pekerjaan-pekerjaan menantang yang akan mengasah kreatifitas dan memperkuat etos kerja karena gaji yang diterima terlalu kecil.

Marilah kita sesegera mungkin mencungkil gembok dan merobohkan “kandang harimau” kita agar kita dapat segera memunculkan potensi dan kemampuan kita serta dapat menghilangkan lingkungan yang mengkungkung potensi kita. Dengan begitu kita akan bekerja dengan segenap kemampuan kita yang sebenarnya, yang pada akhirnya kita akan menjadi orang yang sukses.

special inspirator and story from: Jamil Az-Zaini

Tags:
© 2008 NGGERSIKdotcom · Subscribe:PostsComments · Designed by nggersik · Powered by WordPress